KARTOGRAFI TOPONIMI DAN LAY OUT PETA



KARTOGRAFI
TOPONIMI DAN LAY OUT PETA

OLEH

KELOMPOK 9
ADE NOVRIANDA (3153131001)
DORMIAN SIHOMBING (3152131005)
PASTUTI TAFONAO (3151131033)










JURUSAN PENDIDIKAN GEOGRAFI
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2016

KATA PENGANTAR
            Puji syukur kami ucapkapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa di mana berkat rahmat dan karunianya makalah ini dapat selesai pada waktunya. Makalah ini membahas tentang “Topomini Dan Lay Out Peta”.
            Penyusun juga banyak mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu kami dalam menyusun makalah ini yaitu ide dan gagasan dari berbagai pihak yang sangat membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini. Penyusun juga mengucapkan banyak terimakasih kepada para pembaca yang berkenan membaca dan mengambil manfaat dari makalah ini.
            Penyusun juga menyadari bahwa makalah ini masih terdapat banyak kekurangan seperti dari isi serta sumber-sumber penulisan makalah ini. Di harapkan para pembaca dapat memberikan sejumlah kritik dan saran agar kami para penyusun makalah ini dapat memperbaiki makalah ini menjadi lebih baik.
            Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca dan kami ucapkan terima kasih.
                                                                                                                                                Medan, Februari 2016


                                                                                                                      Penyusun


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................................. i
DAFTAR ISI............................................................................................................... ii
BAB I    PENDAHULUAN........................................................................................ 1
1.1    Latar belakang.............................................................................................. 1
1.2    Rumusan Masalah........................................................................................ 2
1.3    Tujuan.......................................................................................................... 2
BAB II   PEMBAHASAN.......................................................................................... 3
2.1 Nama-nama Geografis Peta (Toponimi)........................................................ 3
2.1.1 Menetapkan Nama-nama Unsur Geografis........................................... 4
2.1.2 Pentingnya Pembakuan Nama-nama Geografis.................................... 5
2.2 Lay Out Peta................................................................................................. 7
2.2.1 Komposisi Peta-peta Seri...................................................................... 8
2.2.2 Komposisi Peta-peta Tematik................................................................ 9
BAB III    PENUTUP.................................................................................................. 11
3.1 Kesimpulan................................................................................................... 13
3.2 Saran............................................................................................................. 14
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................. 15



BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sebuah peta tanpa nama-nama geografis atau lebih dikenal dengan toponim (toponym), hanya merupakan secarik kertas yang tidak berharga. Sebuah peta, dengan nama-nama geografis yang ditulis tidak konsisten, bisa mengurangi kejelasan peta, dan selamanya merupakan peta yang dikatakan ceroboh.
Peta-peta Indonesia yang dahulu menjadi sumber acuan, seperti peta rupabumi (topografi), peta hidrografi yang berskala besar, adalah hasil karya orang asing. Meskipun dari segi teknis pembuatan peta-peta tersebut baik, malahan kadang-kadang sangat baik, harus pula diakui, bahwa unsur budaya yang tertuang ke dalam peta-peta tersebut, tidak jarang merupakan hal yang asing bagi masyarakat Indonesia umumnya, atau masyarakat setempat khususnya. Misalnya Fort de Kock adalah nama asing yang diberikan oleh orang asing pada sebuah permukiman yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai Bukit tinggi.
Demikian juga dengan Buitenzorg (Bogor); Padangbai (Padang Baai), yang sebenarnya berarti Teluk Padang di Bali; Pulobai di Bengkulu sebenarnya Pulau Baai, kini sudah menjadi nama sebuah permukiman, yang  berasal dari lidah asing, tetapi sulit untuk diganti. Contoh lain adalah Teluk Lada di ujung  barat Jawa Barat bukanlah nama asli dari teluk yang bersangkutan, melainkan terjemahan langsung dari kata asing Peper Baai.
Orang yang tidak mengerti asal-usul nama Kepala Burung, yaitu suatu tempat yang terdapat di Papua, akan heran membaca atau mendengarnya. Pada wilayah ini terletak kota-kota Manokwari, Fakfak, yang oleh orang Belanda dilihat bentuknya seperti bentuk kepala seekor burung, dan kemudian disebut sebagai Vogelkop, yang berarti Kepala Burung dalam  bahasa Belanda. Kalau orang-orang Jakarta ingin udara segar pada akhir pekan, mereka yang mampu akan pergi ke Puncak Pas. Pas, adalah istilah Belanda, yang berarti tempat untuk melintas di antara deretan perbukitan. Istilah yang artinya serupa dalam bahasa Indonesia saat ini belum ada.
Sebagaimana banyak disebutkan, Indonesia terdiri lebih dari 17.000 pulau, tetapi hanya sebagian kecil saja yang sudah mempunyai nama. Secara politis nama untuk setiap pulau perlu, karena seandainya pada suatu saat ada sengketa mengenai sebuah pulau, bagaimana bisa membicarakan sebuah pulau yang tidak diketahui namanya? Masalah kemudian timbul, instansi mana yang berwenang menetapkan nama-nama unsur geografis, seperti pulau, gunung, pegunungan, teluk, tanjung dan lainnya?
1.2 Rumusan Masalah
            1.2.1 Apa itu topomini ?
                     1.2.1.1 Bagaimana menetapkan nama-nama unsur geografi ?
                     1.2.1.2 Pentingnya pembakuan nama unsur geografi ?
                     1.2.1.3 Apa saja lingkup kaidah toponimi ?
            1.2.2 Apa itu layout peta ?
                     1.2.2.1 Komposisi peta-peta seri ?
                     1.2.2.2 Kompsisi peta-peta tematik ?
1.3 Tujuan
1.      Mengetahui Pengertian Dan Pemanfaatan Toponimi Dan Layout Peta
2.      Memahami Kaidah Penulisan Topomini Dan Unsur-unsur Layout Peta
3.      Mengetahui Bagaimana Cara Penulisan Toponimi Dengan Benar
4.      Memahami Lebih Dalam Seperti Apa Itu Toponimi Dan Layout Peta


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Nama-Nama Geografis Peta (Toponimi)
Toponimi adalah bahasan ilmiah tentang nama tempat, asal-usul, arti, penggunaan, dan tipologinya. Bagian pertama kata tersebut berasal dari  bahasa Yunani tópos (τόπος) yang berarti tempat dan diikuti oleh ónoma (ὄνομα) yang berarti nama. Toponimi merupakan  bagian dari onomastika, pembahasan tentang berbagai nama. Suatu toponimi adalah nama dari tempat, wilayah, atau suatu bagian lain dari permukaan bumi, termasuk yang bersifat alami (seperti sungai) dan yang buatan (seperti kota). Ada sembilan aturan yang harus dipenuhi dalam pemberian nama-nama geografis dalam peta, yaitu:
1. Nama unsur geografis yang terdiri dari generic name dan spesific name ditulis terpisah, contohnya: Gunung Merapi, Selat Sunda
2. Nama kota yang terdiri dari generic name dan spesific name ditulis dalam satu kata, contohnya: Ujungpandang, Muarajambi
3. Nama spesifik yang ditambah kata sifat ayau penunjuk arah ditulis terpisah, contohnya: Jawa Timur, Kebayoran Lama
4. Nama spesifik yang merupakan pengulangan ditulis dalam satu kata, contohnya: Bagansiapiapi
5. Nama spesifik yang ada unsur penomoran ditulis dengan huruf, contohnya: Depok Satu, Depok Dua
6. Nama spesifik yang terdiri dari dua kata benda ditulis dalam satu kata, contohnya: Pagaralam
7. Nama spesifik yang terdiri dari kata benda diikuti unsur geografis ditulis dalam satu kata, contohnya: Pagargunung, Kayulaut
8. Nama spesifik yang terdiri dari tiga kata ditulis dalam satu kata, contohnya: Muarabatangangkola
9. Tidak boleh memberi nama dengan empat kata, contohnya: Gunung manaonun terudang


2.1.1 Menetapkan Nama-nama Unsur Geografi
Pemberian nama pada unsur geografi, selain untuk orientasi atau penegasan letak titik, sebenarnya juga memberikan dampak psikologis, yaitu menumbuhkan rasa lebih dekat anggota masyarakat terhadap unsur geografi tersebut.
Saat ini masih ada ribuan pulau di wilayah Nusantara yang belum mempunyai nama, dan masih ada ribuan selat, teluk, tanjung, gunung, dsb. yang perlu diberi nama. Sampai saat ini yang baru dikenal hanya Puncak-pas saja, masih banyak lagi pas-pas lain yang belum mempunyai nama, dan karena itu tidak bisa dikenal oleh umum.
Di samping itu, masih perlu dilengkapi nama-nama punggung pegunungan, puncak-puncak bukit serta lembah-lembah yang dipandang wajar untuk diberi nama. Selain itu, masih banyak terdapat nama-nama asing seperti Pegunungan Verbeek di Sulawesidan Bergen di Lampung, van Rees di Irianjaya, Schwaner di Kalimantan, Peg. Muller di Kalimantan, Peg. Quarles di Sulawesi. Nama-nama asing lain banyak terdapat di Papua/lrianjaya, seperti P. Stephanie, P. Coquille, P.Klaarbeck, P. Kommerrust, . Schlpad, P. Weeim, dan Middelbrg.
Banyaknya nama asing tersebut perlu dipikirkan apakah pantas diubah, bukan karena nama asingnya, tetapi karena kaitannya dengan masyarakat setempat. Tidak ada gunanya ada nama unsur geografi, yang hanya diketahui oleh beberapa orang terdidik yang tempat tinggalnya jauh dari unsur tersebut, sedangkan orang setempat tidak pernah mendengar tentang nama yang diberikan pada unsur geografi di wilayahnya.
Ada juga nama-nama unsur geografi yang berasal dari nama asing, tetapi sudah dikenal oleh masyarakat setempat, tetapi  penulisan dan pengucapannya masih menjadi masalah yang cukup serius, misalnya Gleamore, Glen Nevis, Bergen, Peg. Schwaner, Peg. Cycloops. Penetapan nama unsur geografi ini adalah pekerjaan yang besar dan perlu dilaksanakan dengan cermat serta penuh kebijakan.
Dalam penulisan nama-nama geografis peta harus mudah dibaca, oleh sebab itu harus dipenuhi persyaratan bagi seleksi hurufnya yaitu:
1.      Nama-Nama dalam suatu lebar kertas harus teratur susunannya, sejajar dengan tepi  bawah peta (untuk peta skala besar) atau sejajar dengan garis perelel/meridian (untuk  peta skala kecil), kecuali untuk nama-nama khusus seprti sungai, pegunungan dan lain-lain.
2.      Nama-nama dapat diberi keterangan dari unsure berbentuk titik dan luasan.
a)         Untuk unsure titik misalnya: kota, bangunan, gunung, dan sebagainya dan diletakkan disamping kanan agak keatas dari unsure tersebut.
b)        Untuk unsure yang memanjang misalnya: sungai, pantai, dan batas diletakkan didalam unsure tersebut.
c)         Untuk unsure luasan wilayah misalnya: Negara, danau, pegunungan, diletakkan memanjang sehingga menempati 2/3 wilayah.
3.      Nama-nama harus terletak bebas satu dan yang lain, dan tidak menggangu symbol-simbol lain.
4.      Nama-nama tidak boleh saling berpotongan, kecuali jika ada huruf mempunyai jarak spasi yang jelas.
5.      Apabila nama-nama harus ditempatkan melengkung bentuk dari lengkungan harus teratur dan tidak boleh terlalu tajam lengkungannya.
6.      Banyak nama-nama yang terpusat disuatu daerah harus diatur sedemikian rupa sehingga terlihat distribusi nama-nama itu tidak terlalu padat paa daerah di peta tersebut.
7.      Angka ketinggian dari garis kontur ditempatkan dicela-cela tiap kontur, dan  penempatannya terbaca pada arah mendaki lereng.
8.      Pemilihan jenis huruf tergantung pada perencanaan kartograf sendiri. Akan tetpai ada aturan tentang pemakaian jenis huruf yaitu: huruf tegak lurus untuk unsure buatan manusia(sungai, danau, pegunungan dan lain-lain)

2.1.2 Pentingnya Pembakuan Nama Geografis
Nama adalah identitas diri suatu objek yang akan menjadi ciri atau penandanya. Nama itu melekat erat sebagai identitas tunggal bagi tiap obyek, terkecuali bagi seorang mata-mata atau yang memiliki identitas ganda dimana mereka membutuhkan lebih dari satu nama untuk suatu tujuan tertentu. Nama itu bahkan melekat hingga akhir hayat tak hanya bagi manusia semata, bahkan bagi suatu wilayah (bisa pulau, desa, dusun, atau kawasan) yang telah musnah baik akibat tenggelam tertelan oleh ganasnya air laut yang terus menjorok ke daratan ataupun kebakaran hutan hingga alih fungsi lahan.
Lebih menarik lagi dan sangat fenomenal saat ini ialah jika nama itu hilang akibat bencana alam atau bahkan perubahan iklim, maka tinggallah nama yang akan dikenang sepanjang masa hingga berita lain menguburnya. Selain itu dalam komunikasi global kita perlu memiliki kesepakatan terhadap nama suatu tempat sebgai suatu objek sehingga tercipta kesepahaman dalam bahasa yang universal dalam menyebutkan nama-nama suatu tempat. Contohnya, dalam era komunikasi global ini, kita menyebut pulau yang merupakan salah satu dari lima pulau besar di negara kita dan posisinya paling barat dengan sebutan pulau Sumatera.
Bayangkan tanpa adanya pembakuan dan kesepakatan nama geografis yang jelas bisa saja orang dari Amerika seenaknya menyebutnya pulau Summerta diakibatkan logat atau dialek bahasa yang berbeda. Bahkan lebih parah bisa saja mereka menamai pulau tersebut sesuai budaya dan pengetahuan mereka, seperti menyebut pulau tersebut dengan sebutan “Long Island” karana bentuk pulau sumatera yang memanjang dan disesuaikan dengan bahasa mereka. Penyebaran komunikasi Amerika Serikat lebih cepat daripada Indonesia maka secara otomatis istilah “Long Island” dapat menyebar dengan pesat terutama di wilayah sekitar Amerika Serikat seperti kanada,dan meksiko. Istilah “Long Island” untuk menyebut pulau sumatera bisa menjadi budaya baahkan istilah yang terbakukan di daerah-daerah daratan Amerika.
Apa jadinya jika suatu saat seorang kanada pergi ke Indonesia untuk melakukan sesuatu di pulau Sumatera seperti penelitian atau liburan. Setelah sampai di bandara Internasional sukarno hatta dia akan kesulitan untuk mencari akomodasi menuju “Long Island”, saat dia hendak bertanya mengenai “Long Island” juga akan kesulitan karena orang Indonesia tidak tahu menggunakan istiah “long Island” untuk menyebut pulau Sumatera. Bahkan kemungkinan terburuk yang terjadi orang Kanada akan diarahkan menuju pulau Panjang yang merupakan pulau kecil di gugusan kepulauan riau. Itu masih satu kesalahpahaman akibat tidak adanya ketetapan nama geografis, bayangkan ada berapa nama juta tempat, lokasi atau objek yang perlu dinaamai?.
Kepentingan yang lain berkaitan dengan kaidah toponimi itu sendiri. Ambil suatu contoh di Indonesia: Nama nama gunung , seperti Gunung Semeru (ditulis dengan dua kata terpisah, karena “gunung” adalah nama generik dari bentuk rupabumi dan “Semeru” nama dirinya.). Ada kota yang memakai kata gunung di dalam nama dirinya dan bagaimana menulisnya dalam kaedah bahasa Indonesia yang benar. Yaitu Kota Gunungsitoli. (ditulis sebagai satu kata ”Gunungsitoli” karena nama generiknya bukan gunung tetapi ”Kota”). Begitu juga kita selalu menulis nama-nama kota Tanjungpinang, Pangkalpinang, Bukittinggi, Ujungpandang, Muarajambi. Tetapi kita dapati kota pelabuhan di Jakarta ditulis ”Tanjung Priok”, yang tentunya ini tidak konsisten dalam bahasa Indonesia. Seharusnya ditulis Tanjungpriok atau Tanjungperiuk, Tanjungperak, Tanjungemas, dsb. Semua harus ditulis dalam satu kata karena bukan nama suatu ”tanjung”. Jika tidak ada kaidah yang dibakukan dalam penamaan ini maka orang yang tidak mengerti akan menganggap bahwa istilah “Gunungsitoli” sama halnya dengan “Gunung Smeru”, sama-sama gunung. Ini akan merancukan komunikasi, padahal fungsi istilah dalam peta adalah untuk memberi kemudahan pemahaman tentang suatu tempat bukan membingungkan orang yang membacanya.
2.1.3   Lingkup Kaidah Toponimi
1.      Penamaan Daratan (format regular)
a)      Nama Negara, Propinsi, Kabupaten, Kota, Kecamatan, Kelurahan/ Desa.
b)      Nama Benua, Pulau, Kepulauan, Gunung, dan Penggunaan Tanah ( Misal Hutan, Perkebunan, Sawah, Pemukiman, Perkantoran, Industri).
c)      Nama Man Made Feature, misal Jalan, dan batas administrasi.
Contoh : Republik Indonesia, Propinsi Jakarta, Kota Jakarta Timur, Kecamatan Durensawit, Kelurahan Durensawit. Pulau Jawa, Ciliwung, Gunung Salak, Perkebunan PTP 8 Parakansalak, dan sebagainya.
2.      Penamaan Perairan (format italic)
a)      Nama Samudera, Laut, Selat, Laguna/Lagoon dan Palung.
b)      Nama Danau, Sungai, Rawadan Setu.
c)      Nama Man Made Feature, misal Waduk, Kanal, dan lainnya.
Contoh : Samudera Hindia, Laut Jawa, Selat Sunda, Laguna Atol Kepulauan Seribu, Danau Toba, Aek Godang, Ci Liwung, Rawa Bunga, Setu Cipondoh . Waduk Jatiluhur, Kanal Kalimalang, dan sebagainya.
3.      Penulisan Posisi Geografis (format numeric/angka dansuperscript)
a)      Lintang dan Bujur
b)      Titik Ketinggian (point)
c)      Luasan Area (polygon)
d)     Isoline (misal kontur)
e)      Grid (X,Y)
Contoh: Letak Kabupaten Dati 2 Sukabumi
·         06o45’ – 07o22’ Lintang Selatan (LS)
·         106o25’ _ 107o02’ Bujur Timur (BT)   
2.2               Lay  Out  Peta
 Semua peta di rancang atau di disain sebaik mungkin agar informasi yang dapat di peroleh dari peta betul dapat memenuhi kebutuhan penggunaan peta. Marginal Information (informasi tepi peta) merupakan informasi pokok yang terdapat di muka peta, sehingga dari informasi tersebut pengguna peta akan lebih mudah dalam menggunakan peta, yaitu : 
a)      Judul Peta
Judul peta merupakan komponen yang sangat penting. Biasanya, sebelum membaca memperhatikan isi peta, pasti terlebih dahulu judul yang dibacanya. Judul peta biasanya diletakkan di bagian tengah atas peta.  
b)      Skala Peta
Skala adalah perbandingan jarak antara dua titik sembarang di peta dengan jarak sebenarnya di permukaan bumi, dengan satuan ukuran yang sama. Skala ini sangat erat kaitannya dengan data yang disajikan. Bila ingin menyajikan data yang rinci, maka digunakan skala besar, misalnya 1 : 5000, Semakin besar skala suatu peta, maka akan semakin banyak detil informasi yang dapat ditampilkan. Skala pada peta dibagi menjadi tiga yaitu: skala garis, skala verbal dan skala nominal.
c)      Tanda Arah atau Tanda Orientasi
Tanda arah atau tanda orientasi penting artinya pada suatu peta. Gunanya untuk menunjukkan arah Utara, Selatan, Timur dan Barat. Tanda orientasi perlu dicantumkan pada  peta untuk menghindari kekeliruan. Tanda arah pada peta biasanya berbentuk tanda panah yang menunjuk ke arah Utara. Petunjuk ini diletakkan di bagian mana saja dari peta, asalkan tidak mengganggu kenampakan peta.
d)     Legenda atau Keterangan
Legenda pada peta menerangkan arti dari simbol-simbol yang terdapat pada peta. Legenda itu harus dipahami oleh si pembaca peta, agar tujuan pembuatan peta itu mencapai sasaran. Legenda biasanya diletakkan di pojok kiri bawah peta. Selain itu legenda peta dapat  juga diletakkan pada bagian lain peta, sepanjang tidak mengganggu kenampakan peta secara keseluruhan.

e)      Inset peta 
Inset peta menunjukan lokasi daerah yang dipetakan terhadap daerah di sekitarnya yang lebih luas. Kegunaan inset adalah untuk menjelaskan salah satu bagian dari peta dan untuk menjukan lokasi yang penting tetapi kurang jelas dalam peta.
f)       Koordinat (Grid & Graticule)
Posisi absolut berdasarkan lintang dan bujur ditulis dalam garis tepi antara garis tepi luar dan garis tepi dalam dan besarnya angka di sesuaikan dengan besarnya peta.
g)      Garis Tepi
Garis tepi biasanya dibuat rangkap, yang berfungsi membatasi peta dengan komponen-komponennya di dalam bingkai (garis tepi peta) serta membantu daerah yang dipetakan tepat pada posisi di tengah-tengah.
h)      Pencatatan Sumber
Catatan mengenai sumber data atau informasi dari mana data berasal yang kemudia di catat di dalam lengkungan kerangka bingkai dengan menyebutkan nama sumber dan diletakkan di bagian kiri bawah.
i)        Sumber Data
Sumber data pada peta harus dicantumkan untuk memberikan penjelasan kepada  pengguna peta tentang data yang ditampilkan.
j)        Pembuat Peta
Untuk menunjukkan siapa yang bertanggung jawab dalam pembuatan peta, ditulis nama penyusunnya, dan tahun penggambarannya.
k)      Informasi lain yang dianggap penting
Lokasi disesuaikan pada kondisi peta. Penempatan informasi tersebut pada lembar peta sebagai informasi peta, disamping sebagai muka dari peta tersebut (tema dan daerah yang digambar pada daerah tertentu) membentuk suatu susunan tata letak peta yang disebut komposisi peta (lay out peta).
2.2.1 Komposisi Peta-Peta Seri
Komposisi pada peta resmi misalnya, peta topografi, peta geologi, masing-masing telah mempunyai aturan standart yang berlaku karena peta tersebut dibuat secara seri. Dari gambar dibawah ini pada hakekatnya komposisi peta untuk menentukan adanya keseimbangan antara  berbagai unsure peta. Dengan kata lain harus kaya dengan informasi yang dapt dielevasi dan dapat dengan mudah digunakan untuk mencapai tujuan pada peta. Secara umum beberapa penampilan komposisi peta untuk peta-peta resmi seri tersebut.
    Gambar A                                                   Gambar B
 
Keterangan :
Komposisi A (Peta topografi lama)
Komposisi B (Peta topografi baru)
1. Daerah yang dicakup
2. Nomor lembar peta seri
3. Pulau induk
4. Petunjuk letak peta
5. Petunjuk orientasi utara
6. Skala angka dan grafis
7. Pengarang/penerbit
8. Pembagian daerah administrasi
9. Keterangan proyeksi peta
10. Petunjuk pembacaan grid peta
11. Legenda/keterangan
12. Penjelasan sumber
13. Grid lintang
14. Grid bujur
1. Judul peta
2. Skala angka
3. Nomor lembar peta seri
4. Daerah yang dicakup
5. Edisi (tahun), petunjuk letak peta
6. Keterangan proyeksi peta
7. Pengarang/penerbit
8. Petunjuk orientasi utara
9. Skala grafis
10. Pembagian daerah administrasi
11. Petunjuk pembacaan koordinat geografis
12. Grid lintang
13. Grid bujur

 


2.2.2 Komposisi Peta Tematik
Pada peta lainnya, seperti peta tematik sangat memperhatikan keseimbangan stata letak, dan keserasian dalam hal ukuran dan tipe huruf. Pada umumnya peta tematik menggambarkan derah yang berbentuk pulau misalnya menggambarkan satu kecamatan, satu kabupaten, satu propinsi, dan pulau. Informasi yang penting lagi yaitu mencakup:
1.      Judul
2.      Daerah yang dicakup
3.      Skala peta
4.      Legenda
5.      Keterangan orientasi
6.      Grid lintang bujur
7.      Indeks (petunjuk letak peta) contoh penggambaran peta tematik misalnya:

Keterangan A dan B:
1. Judul peta tematik
2. Daerah yang dicakup
3. Skala angka dan grafis
4. Orientasi utara
5. Legenda/keterangan
6. Penyusun/penerbit
7. Sumber data grid lintang dan bujur
Keterangan A dan B:
1. Judul peta tematik 
2. Daerah yang dicakup 
3. Skala angka dan grafis 
4. Orientasi utara 
5. Legenda/keterangan 
6. Peta inset/peta lokasi 
7. Pengarang/penerbit 
8. Sumber data 
9. Grid lintang dan bujur  

Berdasarkan contoh komposisi peta pada gambar, kita bisa membayangkan dan mendesain peta tematik yang akan kita buat. Komposisi peta yang dirancang dengan tepat akan menambah kejelasan bagi pembaca peta. Tidak hanya itu, bahkan dengan komposisi  peta yang baik dan tepat akan memberikan kesan suatu peta yang indah. Di sinilah letak seni  pada ilmu kartografi yang menyatakan bahwa kartografi adalah ilmu dan seni.


BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
a)      Nama-Nama geografis Peta (Toponomi) adalah bahasan ilmiah tentang nama tempat, asal-usul, arti, penggunaan, dan tipologinya. Bagian pertama kata tersebut berasal dari  bahasa Yunani tópos (τόπος) yang berarti tempat dan diikuti oleh ónoma (ὄνομα) yang berarti nama.
b)      Dalam penulisan nama-nama geografis peta harus mudah dibaca, oleh sebab itu harus dipenuhi persyratan bagi seleksi hurufnya yaitu:
·         Nama-Nama dalam suatu lebar kertas harus teratur susunannya, sejajar dengan tepi  bawah peta (untuk peta skala besar) atau sejajar dengan garis perelel/meridian (untuk  peta skala kecil), kecuali untuk nama-nama khusus seprti sungai, pegunungan dan lain-lain.  
·         Nama-nama dapat diberi keterangan dari unsure berbentuk titik dan luasan.
·         Nama-nama harus terletak bebas satu dan yang lain, dan tidak menggangu symbol-simbol lain.
·         Nama-nama tidak boleh saling berpotongan, kecuali jika ada huruf mempunyai jarak spasi yang jelas
·         Apabila nama-nama harus ditempatkan melengkung bentuk dari lengkungan harus teratur dan tidak boleh terlalu tajam lengkungannya.
·         Banyak nama-nama yang terpusat disuatu daerah harus diatur sedemikian rupa sehingga terlihat distribusi nama-nama itu tidak terlalu padat paa daerah di peta tersebut.
·         Angka ketinggian dari garis kontur ditempatkan dicela-cela tiap kontur, dan  penempatannya terbaca pada arah mendaki lereng.
·         Pemilihan jenis huruf tergantung pada perencanaan kartograf sendiri. Akan tetpai ada aturan tentang pemakaian jenis huruf yaitu: huruf tegak lurus untuk unsure buatan manusia(sungai, danau, pegunungan dan lain-lain)
b).    Lay Out Peta merupakan sebuah informasi yang memberikan kemudahan bagi para pembaca peta dalam memahami informasi yang ada pada peta, seperti :
·         Judul peta
·         Orientasi arah
·         Legenda
·         Letak lintang dan bujur
·         Pencatatan sumber
·         Garis tepi/kerangka peta
·         Pembuat peta
·         Skala
·         Peta insert
·         Sumber data
·         Informasi lain yang di anggap penting

3.2 Saran


DAFTAR PUSTAKA
http://www.bakosurtanal.go.id/bakosurtanal/belanda-mempengaruhi-nama-nama-geografi-indonesia-laporan-seasc
Rais, Jacub. 2006. Arti Penting Penamaan Unsur Geografi Definisi, Kriteria dan Peranan PBB dalam Toponimi (Kasus Nama-Nama Pulau di Indonesia).ITB. Bandung.
Forest Watch Indonesia. 2010.
Manajemen dan Analisis Data Spasial dengan ArcView GIS.
Bogor : IPB.
Prof. Darmono, M. Ed, Dkk, Kartografi, FIS UNIMED, Medan : 2016

Komentar